Back Edisi 1 Edisi 2 Edisi 3 Edisi 4
ISSN 1978-6077 Media Komunikasi STAINU Kebumen Community Think Globally Act Locally
|
COMMUNITY Think Globally Act Locally Pelindung 1. Mengubah MI menjadi SD Plus 2. Kompetensi Pedagogik 3. MOU STAINU MA Se-Kabupaten 4. Kompetensi Pedagogik Profesionalisme Guru Kelas. 5. Mari Berdamai Menjaga Bumi 6. Peran IKAS 7. Menjadi Pusat Multimedia Pembelajaran 8. Sosok (Berani Asal Benar) 9. Gerakan Ekstra Parlementer 10.Mempermudah Layanan Mahasiswa Dengan Online |
Salam Redaksi MI, di beberapa tempat memang masih tertinggal Karena persoalan di atas, maka masyarakat berbondong-bondong memasukkan anaknya ke SD Islam. Padahal hakikatnya SD Islam itu juga sama dengan Madrasah Ibtidaiyah, hanya terdapat beberapa inovasi. Mengapa MI dianggap pinggiran, menurut amatan Community ada beberapa hal pertama dari pihak MI sendiri yang 'tak kunjung maju'. Manajemen yang perlu ditata lebih baik, dan yang paling penting adalah inovasi dan kreasi pembelajaran dari guru-guru MI itu sendiri yang paling menetukan. Untuk itu STAINU Kebumen mendirikan pendidikan S1 PGMI, dengan harapan nantinya guru-guru MI menjadi inovatif, kreatif dan inisiatif sehingga pembelajaran yang dilakukan selalu segar, baru dan disukai anak-anak. Dengan begitu MI-MI di Kabupaten Kebumen dan sekitarnya nantinya tidak boleh lagi dianggap pinggiran. Edisi kali ini, Community mencoba memotret dinamika Madrasah Ibtidaiyah, dinamika guru-guru dan proses pembelajaran yang baik bagi MI, serta beberapa liputan dinamika kampus, mahasiswa dan civitas akademika STAINU Kebumen. Ijinkan redaksi menambah satu kolom untuk penelusuran alumni. Bekerjasama dengan Ikatan Keluarga Alumni STAINU Kebumen, (IKAS). Tentu saja mengubah paradigma pendidikan di MI, perlu waktu lama dan kegigihan. Untuk itulah kami memulai langkah pertama. (Brs). |
|---|