|
Setiap warga negara Indonesia memiliki hak
yang sama untuk mendapatkan kesempatan layanan pendidikan tidak kecuali
pendidikan tinggi. Namun demikian, pendidikan tinggi seringkali di
asumsikan dan di identikan komunitas papan atas yang eksklusif dan elit.
Hanya orang-orang tertentulah yang dapat mengenyam pendidikan tinggi.
Akibatnya banyak potensi generasi muda dari komunitas menengah ke bawah
mengalami stagnasi karena tidak terakomodir dalam mengembangkan potensi
dan kecakapan diri. Satu satunya pilihan (rational choice) pasca pendidikan
SLTA adalah bekerja dengan bekal yang pas pasan.
Semua itu terjadi karena adanya bayang-bayang
rasa takut (sindrom) dan pencitraan negatif bahwa pendidikan tinggi
adalah sekolah mahal (high cost). Kesiapan dana memang menjadi sesuatu
faktor penting dalam pendidikan tinggi, namun demikian bukanlah menjadi
modal utama (determinan). Dalam teori belajar (learning) peranan motivasi,
intelectual quostion jauh lebih utama dibandingkan kapital ekonomi dan lainya.
Sementara itu kuliah pada dasarnya merupakan
investasi masa depan yang menjanjikan, strategis dan mendesak
Pandangan masyarakat tentang tingginya biaya kuliah
di PT tidaklah sepenuhnya benar, karena tidak semua PT “memathok” biaya kuliah
dengan cost tinggi. Semisal STAINU Kebumen dengan melihat kondisi sosio-ekonomi
masyarakat Indonesia yang masih terpuruk dan belum stabil maka STAINU
Kebumen tetap konsisten mengedepankan nilai-nilai pelayanan sosial dibandingkan
komersialisme pendidikan. Hal ini sebagaimana diamanatkan para ulama
(founding father) STAINU Kebumen dengan visi think “globally act locally”
kemaslahatan jam’iyah dan penguatan kapasitas lokal.
Sebagai wujud darma bakti STAINU Kebumen kepada umat
diaplikasikan dalam strategi tarif biaya kuliah “terjangkau” tentunya dengan
tetap mengedepankan kualitas mutu. Kiranya sangat relefan apabila strategi
STAINU Kebumen dikaitkan dengan kebijakan Visi Pendidikan Indonesia “3 M”
(mutu, murah, merata) sebagaimana disampaikan Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono (SBY) didampingi wapres M. Yusup Kalla, Mendiknas dan Menko Kesra
dalam jumpa pers di Jakrta (06/02/2008)
Dalam era kompetisi global seperti saat ini,
peningkatan kapasitas SDM (Sumber Daya Manusia) di segala bidang sudah menjadi
keharusan (keniscayaan). Hal ini dikaitkan dengan tuntutan standar mutu dunia
kera profesional yang mensyaratkan minimal berpendidikan S.1. Contoh realitasnya:
Pemerintah mensyaratkan bahwa basis pendidikan calon guru (TK s.d menengah) adalah
lulusan dari Strata Satu (S.1).
Profesi guru pada saat ini dinilai memiliki lapangan
kerja yang prospektif dan menjanjikan. Disamping memiliki lapangan kerja yang luas
dan terbuka juga memiliki kesejahteraan yang cukup menjanjikan. Lebih lebih setelah
adanya kebijakan dari pemerintah RI melalui Undang-Undang Guru dan Dosen No.
14 tahun 2005, diperkuat dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 18 Tahun 2007
tentang sertifikasi guru serta Peraturan Menteri No. 16 Tahun 2007 tentang standarisasi
kualifikasi akademik dan kompetensi guru. Dengan regulasi tersebut semua
guru (negeri atau swasta) nantinya berhak mendapatkan tunjangan profesi di
luar gaji pokok yang bersumber dari anggaran pemerintah.
STAINU Kebumen merupakan PTAI yang berbasis keguruan (LPTK) yang
mengemban tugas dari pemerintah menyelenggarakan pendidikan tinggi dengan out
come mencetak Guru PAI dan Guru Kelas Dasar khususnya MI sesuai dengan pilihan
program studi. Hal ini sebagaimana termuat dalam SK. Izin Operasional dan sertifikasi
yang telah diperoleh.
Secara realitas STAINU Kebumen telah mengeluarkan
ribuan alumnus yang tersebar diberbagai daerah baik di pedesaan dan perkotaan.
Berdasarkan hasil penelusuran yang dilakukan, terbukti lulusan STAINU Kebumen
mayoritas telah bekerja sesuai dengan disiplin ilmunya. Berdasarkan data formasi
CPNS yang diselenggarakan di Depag Alhamdulillah lulusan STAINU Kebumen
berhasil mendominasi kompetisi CPNS khusunya di Kebumen. Hal ini diperkuat
lagi dengan lolosnya alumni D.2 STAINU Kebumen dalam CPNS
di lingkungan Dinas P dan K di berbagai daerah yang sebelumnya
sempat tertunda karena adanya diskriminasi pendidikan.
|